Pages

Subscribe:

Tokoh Kuansing Redam Konflik

211 klik Beritahu Teman

Tokoh Kuansing Redam Konflik

ORASI: Mahasiswa asal Kuantan Singingi melakukan orasi di depan Mapolda Riau, Rabu (9/6/2010) memprotes peristiwa ‘’Kuansing Berdarah’’ di Cengar, Kuantan Mudik.(said mufti/riau pos)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru dan Telukkuantan
redaksi@riaupos.com
PASCA-konflik yang terjadi antara warga Kuantan Mudik bersama aparat kepolisian, tokoh masyarakat asal Kuansing yang berada di Pekanbaru langsung melakukan pertemuan. Pertemuan difasilitasi oleh Ikatan Keluarga Kuantan Singingi (IKKS) Pekanbaru bersama sejumlah tokoh masyarakat asal Kuansing, Rabu (9/6) di sekretariat Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR).

Hadir dalam pertemuan itu, mantan Bupati Kuansing yang kini menjadi anggota DPRD Riau Asrul Jafar, Sekretaris Umum FKPMR Levna Ervan, Abu Bakar Sidik, Edyanus Herman Halim, Mardianto Manan dan lainnya. Adalah Ketua Harian IKKS Pekanbaru Endriarto Ustha yang langsung membuka pertemuan seraya menyampaikan konflik yang terjadi di Kabupaten Kuansing di hadapan para tokoh masyarakat Kuansing.
Sekretaris Umum FKPMR yang juga tokoh masyarakat asal Kuansing Levna Ervan mengatakan, dirinya baru saja pulang dari Kuansing melihat kejadian yang dialami warga di sana. Selama melihat di lokasi kejadian, emosi masyarakat bercampur sedih. Apalagi salah seorang warganya meninggal dunia, ditambah lagi delapan orang luka kritis dan puluhan lainya luka-luka. “Kondisi di sana kurang kondusif di mana emosi bercampur rasa sedih dialami warga akibat konflik yang terjadi,’’ ujar Levna.
Tokoh masyarakat Kuansing lainnya Edyanus Herman Halim mengatakan, konflik ini jangan sampai menimbulkan konflik horizontal, dan ini harus diantisipasi. Persoalannya sekarang adalah tindakan apa yang bisa kita lakukan bagi warga di sana, agar jangan merembes ke mana-mana.
Edyanus juga mendapat laporan ada rumah yang terbakar. Melihat kejadian ini, tokoh masyarakat Kuansing lainnya, Haris, mengatakan, para tokoh masyarakat Kuansing yang ada Pekanbaru harus turun ke sana menjumpai warga. Karena mereka sangat memerlukan dorongan dan semangat semua yang ada di sini untuk menyelesaikan persoalan mereka. Tokoh masyarakat di sini dianggap orang yang netral karena tidak pro ke KUD ataupun kontra.
‘’Jadi saya sarankan, malam ini ataupun pagi besok kita semua bersama-sama turun ke Kuansing untuk menjenguk saudara kita di sana. Melalui pertemuan ini juga, sekadar mengusulkan sebaiknnya aparat kepolisian tidak berada di sana ataupun hadir di sana, karena masyarakat trauma dan bercampur emosi akibat ulah polisi yang bertindak brutal,’’ katanya.
Pertemuan ini berlangung alot, di mana masing-masing orang memberikan saran dan juga masukan untuk penyelesaian konflik ini. Namun dalam pembahasan ini sempat terjadi perdebatan yang menyangkut tim penyelesaian, antara keterlibatan TNI, polisi dan Pemkab Kuansing.
Sebagian dari mereka menginginkan agar Pemkab Kuansing yang menyelesaikan, tanpa melibatkan TNI, sementara yang lainnya, perlu dilibatkan TNI, dalam hal ini Korem untuk berbaur bersama warga dan mencegah terjadinya konflik lagi. Namun perdebatan itu akhirnya menemui jalan keluar, yakni dengan berbagai pertimbangan yaitu melibatkan TNI namun tidak juga mengabaikan Pemkab Kuansing.
‘’Jika masih melibatkan polisi di sana, kita khawatir akan kemarahan warga, karena kebencian mereka pada polisi sudah membuncah, akibat meninggalnya seorang warga mereka dan luka-luka akibat bentrok sama polisi,’’ kata Ambo.
Rumah Anggota Dewan Terbakar
Hingga kemarin kondisi Desa Koto Cengar Kecamatan Kuantan Mudik masih mencekam. Sekitar pukul 16.00 beredar informasi rumah anggota DPRD Kuantan Singingi, Jufrizal SE, terbakar.
Tidak ada warga yang berani menyebutkan apa penyebab terjadinya kebakaran. Camat Kuantan Mudik, Eprizon Marzuki AP MSi, menyebutkan, saat rumah Jufrizal itu terbakar, kondisi rumah itu dalam keadaan kosong.
‘’Kita dapat informasi dari warga bahwa rumah Pak Jufrizal memang terbakar saat itu. Ketika itu saya sedang mendampingi tim independen polda Riau yang meninjau lokasi bentrokan, sementara warga berkumpul di rumah duka,’’ ujar Eprizon kepada Riau Pos Rabu (9/6).
Selain anggota DPRD Kuansing, Jufrizal juga merupakan mantan Kades Cengar. Tidak ada juga satu pun pihak yang bersedia menjelaskan detail penyebab terjadinya kebakaran tersebut.
Disebutkan Eprizon, saat itu rombongan Bupati sudah pulang dari rumah duka. Pihaknya ketika itu berada di lokasi kejadian bersama tim independen dan anggota DPRD Riau komisi B. Pihaknya mendapat informasi dari warga bahwa ada rumah terbakar, lalu langsung ke lokasi kejadian. ‘’Waktu itu kondisi rumah sudah hangus dan warga tak ada di lokasi kejadian. Kita tak tahu pasti kejadiannya seperti apa.Tapi yang jelas saat itu rumah dalam keadaan kosong,’’ ujarnya.
Feri, kakak ipar korban meninggal, Juniar, yang dimintai keterangannya seputar kebakaran rumah wakil rakyat tersebut tidak bersedia berkomentar. ‘’Kita tak bisa menjelaskan, karena tak tahu. Namun yang pasti, memang ada rumah yang terbakar,’’ ungkap dia.
Penjelasan Feri itu juga dibenarkan Ketua KUD Prima Sehati, Ilyas Yakup saat dihubungi. Dia menjelaskan, ada satu rumah terbakar, dan itu adalah rumah salah seorang warga. ‘’Tapi saya belum bisa menjelaskan detailnya, karena saya sendiri di Pekanbaru,” katanya.
Salah seorang tim independen yang diturunkan Polda Riau, Kompol Hendri Dwi Prasetyowanto SIK, saat dikonfirmasi peristiwa kebakaran terhadap rumah salah seorang warga tersebut menyatakan bahwa kejadian itu terjadi pada siang hari. Dia sendiri tidak bersedia memberikan keterangan lebih jauh, karena menurutnya, tidak berwenang untuk menjelaskan. Namun yang pasti, menurut dia, saat ini kondisi di Cengar Kuantan Mudik sudah kembali stabil dan relatif lebih aman.
‘’Masyarakat memang masih banyak berkumpul, tapi tidak ada penyerangan, tidak ada konsentrasi massa yang berlebihan. Kita harapkan kondisi ini tetap bertahan, sehingga proses penyelesaian masalahnya juga bisa cepat terlaksana,’’ ungkap dia.
Warga Beberkan Peristiwa
Masyarakat Kenegerian Cengar yang terdiri dari Desa Koto Cengar dan Desa Seberang Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik akhirnya membeberkan peristiwa tragis berdarah yang dialami warga dalam insiden berdarah Selasa (8/6) lalu. Selain tertembak, ternyata sejumlah warga juga mengaku disiksa dan dipukul dengan benda keras.
Hal itu terungkap dalam pertemuan wartawan bersama warga yang berlangsung hingga pukul 24.00 WIB dini hari tadi di Simpang Empat Cengar. Pertemuan itu dihadiri langsung Camat Kuantan Mudik Efrizon Marzuki AP MSi, Danramil Kuantan Mudik Kapten M Husni, Danramil Kuantan Tengah Kapten Samosir dan kepala desa, tokoh masyarakat dan puluhan warga setempat.
Menurut pengakuan warga, korban pemukulan itu setidaknya dialami 11 orang warga kedua desa Kenegerian Cengar Kecamatan Kuantan Mudik ini. Ke-11 orang warga yang ditangkap dan mendapat penganiayaan, yakni Aan, Baktiar, M Nasir, Hamisar, Eldisel, Rusman, Risman Susman Agun, Fariman dan sejumlah rekannya.
Sebagaimana dibeberkan Hamisar, saat terjadi kerusuhan dirinya baru kembali dari kebun bersama istrinya. Mendengar letusan senapan, Hamisar yang berboncengan dengan isterinya tidak melarikan diri. Namun malang, ayah dua anak itu ditangkap dan dihajar lelaki berpakaian preman tapi bersenjata api.
‘’Tidak tanggung-tanggung saya disiksa hingga bibir saya robek. Bahkan bagian belakang tubuh saya dipukuli hingga lebam,’’ kata Hamisar seraya menunjukkan bekas lebam di punggungnya.
Eldisel yang ditangkap dalam kebun sawit mengungkapkan, saat peristiwa itu terjadi dia melarikan diri ke dalam kebun sawit warga. Namun malang lagi, dalam kebun sawit dirinya dihajar lelaki berpakaian preman tapi bersenjata api. Eldiser langsung memperlihatkan bekas siksaan yang dialaminya dalam kebun sawit. Bagian perutnya luka dan lebam.
Seorang wanita bernama Otiang juga mengisahkan kalau dirinya melihat langsung saudara lelakinya Sabarudin dihajar lelaki berpakaian preman tapi bersenjata api di dalam kebun sawit. ‘’Kakak saya dihajar habis-habisan, kepalanya dipukul dengan gagang pistol. Tubuhnya diinjak-injak,’’ kata Otiang.
Agun juga mengisahkan kisah tragis yang dialaminya dalam insiden berdarah Desa Cengar Selasa lalu. Menurut Agun, dia baru kembali dari kebun. Tapi malang tiba-tiba lelaki tak dikenal berpakaian preman menghajar bagian dahinya. Akibatnya dahi lelaki tua itu mengalami luka robek.
Kepala Desa Koto Cengar, Doni, kepada Riau Pos mengungkapkan amarah warga baru terlihat setelah seorang warga Disman tumbang diterjang peluru. Padahal sebelumnya warga tidak memberikan perlawanan, meskipun aparat polisi berulangkali melepaskan tembakan peringatan. Bahkan polisi sengaja melintangkan mobil patroli Polsek Kuantan Mudik untuk menghalangi arus balik massa.
‘’Warga saya dari kebun mau pulang ke desa. Tapi di jalan dihadang polisi,’’ kata Doni.
Dimakamkan
Kemarin siang, juga dilakukan pemakaman jenazah Juniar (48), salah seorang warga yang menjadi korban tertembak pada bentrok berdarah di Cengar. Prosesi pemakaman dihadiri oleh ratusan warga. Kondisi ini memang sempat memancing emosi warga, hanya saja, tidak sampai pada hal-hal yang bersifat anarkis.
‘’Kami sekeluarga memang datang khusus untuk menyalatkan anggota keluarga kami yang meninggal karena bentrokan ini,’’ sebut Feri.
Pada saat disemayamkan di rumah duka, juga sempat hadir di tengah masyarakat Bupati Kuantan Singingi Sukarmis, Wakil Bupati Mursini juga Sekda Kuansing Zulkifli MSi. Bupati dalam kesempatan itu meminta supaya masyarakat bersabar dan bisa menyelesaikan masalah ini secara musyawarah dengan mengembalikan penyelesaiannya pada kesepakatan awal.
Peristiwa kebakaran rumah Jufrizal sendiri, berdasarkan informasi warga, tepat terjadi pada saat Bupati dan rombongan sedang melayat di rumah duka. Tidak ada banyak pihak yang memberikan penjelasan terkait masalah ini.
Jufrizal dan keluarga sendiri, pada saat kejadian tidak berada di rumah tersebut. Berdasarkan keterangan sejumlah tetangga, Jufrizal memang sudah tidak berada di rumah semenjak dua hari terakhir. Saat dihubungi Jufrizal juga tidak bersedia berkomentar.
Cegah Konflik Horizontal
Dari hasil pertemuan tokoh masyarakat itu ada beberapa langkah penyelesaikan konflik di Kuansing. Menurut Ketua Harian IKKS Pekanbaru, Endiarto Ustha, persoalan ini jangan sampai terjadi konflik horizontal dan ini harus diantispasi sekarang.
Pihaknya meminta bantuan dan juga pendapat Korem akan atas kejadian ini. Bahkan tokoh masyarakat Kuansing yang ada di Pekanbaru, pagi ini turun langsung ke Kuansing.
‘’Kita minta anggota TNI untuk mengambil alih konflik, karena masyarakat masih marah dengan kepolisian. Kita ingin ada orang netral di masyarakat sehingga konflik ini bisa reda,’’ kata Endrianto.
Pihaknya juga akan melaporkan ini ke Komnas HAM karena sepertinya ada pelanggaran. Bahkan di lokasi kejadian ditemukan proyektil peluru dan selongsong peluru yang masih aktif, ditambah lagi video rekaman tindakan polisi terhadap warga dan data penunjang lainnya. Kepada Pemkab Kuansing juga diminta untuk bertanggung jawab secara moral pada masyarakatnya, agar hal ini tidak terjadi di masa mendatang.(dac/bud/*3/rul/muh/hbk)Source: Riaupos.com

»»  READMORE...

Kuantan Mudik Kuansing Mencekam, Satu Tewas

AksiI masyarakat Desa Koto Cengar dan Seberang Cengar, Kenegerian Cengar Kecamatan Kuantan Mudik, Selasa (8/6) sekitar pukul 13.00 WIB berakhir bentrok. Bentrokan terjadi di simpang empat Desa Cengar menuju areal perusahaan PT Tri Bhakti Sarimas dan areal perkebunan masyarakat yang di kelola KUD Prima Sehati.

Satu orang dilaporkan tewas dalam insiden ini. Dalam aksinya, masyarakat menuntut agar dikembalikannya pada MoU Pantai tahun 1997 dan percepatan Pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) KUD Prima Sehati yang tertunda pelaksanaannya. Anggota satuan Polres Kuansing pada saat itu ingin menjemput M Zein, yang menjadi tersangka pelaku aksi anarkis sebelumnya.
Namun, di ruas simpang empat Desa Cengar, mereka bertemu dengan sekitar 500 anggota masyarakat Kenegerian Cengar yang sudah sejak beberapa hari lalu melakukan aksi demo dan unjuk rasa di kawasan tersebut. Satuan Polres Kuansing yang menggunakan mobil patroli Polsek Kuantan Mudik yang terdapat Kapolsek Kuantan Mudik AKP Syafri Joni SE, langsung keluar dari mobil.
Pasalnya massa sudah beringas dengan menggunakan senjata tajam dan parang. ‘’Mobil Polsek Kuantan Mudik langsung dibakar warga. Untung saja Kapolsek Kuantan Mudik yang berada di dalam mobil langsung keluar,’’ kata Kapolres Kuansing AKBP Rudi Abdi Kasenda dalam konferensi pers usai kejadian di Mapolres Kuansing.
Rudi Abdi Kasenda mengatakan, mobil Polsek Kuantan Mudik langsung dibakar masssa, sehingga anggota Polres Kuansing yang di-back-up satuan Brimob Polda Riau tak bisa menghindarkan bentrokan massa. Satu orang anggota Polres Kuansing yang ikut dalam pasukan pengamanan dan pembubaran kerumunan massa warga tersebut terkena bacok pleh senjata tajam warga. Puluhan anggota lainnya mengalami lemparan batu. Anggota gabungan Polres Kuansing yang berkisar sekitar 270 orang lebih ini, sudah berupaya membubarkan aksi penyerangan warga yang sudah menyerang aparat kepolisian dengan melepaskan tembakan peringatan berulang kali. ‘’Saat kita melepaskan tembakan peringatan ini, mereka bubar,’’ kata Polres.
Namun, saat warga yang melakukan unjuk rasa telah bubar, anggota yang turun dan sudah terdesak serangan warga yang jumlahnya terlalu banyak, tidak melihat ada warga yang tertembak dan meninggal dunia. ‘’Di lokasi kejadian tidak ada kita temukan ada warga yang terkena tembak. Baru setelah pasukan ditarik dan saya sudah pulang dari Polsek Kuantan Mudik, saya dapat informasi ada warga yang katanya terkena tembak. Dan ditemukan meninggal dunia di areal perkebunan,’’ ujarnya.
Dikatakan Rudi Kasenda, kondisi tersebut harus diperiksa ahli forensik betul atau tidak kebenarannya. ‘’Siapa yang menemukannya, di mana, bagaimana saat ditemukan mayat ibu janda tersebut. Kalau ada yang tahu, kita minta informasinya,’’ ujar Kapolres. Informasi yang diterima dari jajarannya yang berada di lapangan, wanita yang meninggal dunia tersebut bernama Jusniar (48), warga Desa Seberang Cengar yang ditemukan di kebun sawit. Sementara seorang warga lainnya yang mengalami cedera yang diduga terkena tembak, setelah dilakukan pengecekan diketahui bernama Disman (45) asal Desa Kasang Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik.
Ketika satuan anggota Polres dan beberapa dari Polsek serta Brimob Polda Riau tersebut akan bergerak meninggalkan lokasi bentrokan dengan maksud menghindari terjadinya bentrokan yang lebih besar, terang Kapolres, mereka mendapat hadangan. Ruas jalan yang dilalui ke lokasi menuju arah Cengar sudah dihambat dengan sejumlah batang kayu yang sengaja diletakkan di ruas jalan yang akan dilalui anggota kepolisian. Namun pihaknya tetap bergerak mundur menghindari bentrokan yang lebih jauh.
Kapolres Kuansing yang didampingi Waka Polres Kompol Muji Supriyanto, Kasat Reskrim AKP Firman VW Sianipar SH lebih rinci menceritakan ihwal semakin meruncingnya konflik KUD Prima Sehati dengan masyarakat selaku anggota KUD. Dikatakannya, aksi demonstrasi ini berawal pada tanggal 9 Mei 2010, masyarakat melakukan unjuk rasa yang dimotori Aliansi Mahasiswa Masyarakat Pucuk Rantau Bersatu, di perusahaan PT Tri Bakti Sarimas menuntut masalah MoU Pantai tahun 1997, yang menurut mereka setelah lima tahun di kembalikan lahan milik mereka.
Sebagai pihak keamanan, pihaknya sudah menfasilitasi pertemuan agar tidak melakukan tindakan anarkis dalam aksi unjuk rasanya. Namun tindakan anarkis tetap terjadi. Salah seorang pengurus KUD Prima Sehati saat itu, mendapatkan tindak penganiayaan, yakni Buyung Suherman. Mobil miliknya dibalikkan dan dirusak.
Selanjutnya, Kamis 13 Mei 2010, yang dihadiri sejumlah pejabat Pemkab, pihaknya kembali memfasilitasi agar aspirasi masyarakat tersalurkan dan tidak terjadi tindakan anarkis. Dalam pertemuan tersebut, hadir langsung Bupati Kuansing H Sukarmis, Ketua DPRD Muslim SSos, Kajari Teluk Kuantan Maryono SH MH, Kapolres, pihak perusahaan dan perwakilan pengurus KUD Prima Sehati.
Dalam pertemuan tersebut, direncanakan akan dilaksanakan RAT KUD Prima Sehati tanggal 23 Mei 2010. Tapi, pengurus kemungkinan belum bisa dilakukan RAT karena belum ada persiapan termasuk pendanaan untuk pelaksanaan RAT. Pengurus KUD mengundur pelaksanaan RAT tanggal 12 Juni. ‘’Mundurnya waktu pelaksanaan RAT inilah yang menimbulkan kurangnya kepercayaan masyarakat,’’ ujar Rudi Abdi Kasenda.
Sejak diundurnya pelaksanaan RAT inilah, masyarakat mulai melakukan penjarahan buah sawit dan pemblokiran mobil angkutan sawit milik perusahaan. Kondisi ini terus berlarut. Saat ada hajatan salah seorang pengurus KUD Prima Sehati Buyung Suherman sekitar 5 Juni 2010 lalu, mobil karyawan KUD dan security serta kepala personalia PT Tri Bakti Sarimas H Abu Bakar dicegat oleh warga bernama M Zen, Joni, dan kawan-kawan. Kunci mobil pun diambil.
Bahkan, dua hari lalu dilakukan pembakaran camp karyawan milik perusahaan PT Tri Bakti Sarimas sebanyak 10 pintu. ‘’Namun tidak ada saksi siapa yang melakukan, dan tersangkanya tidak ada. Karena karyawan kabur semuanya,’’ ujarnya.
Karena semakin brutal, Pihak Polres Kuansing menetapkan M Zen dan kawan-kawan sebagai tersangka yang melakukan tindakan anarkis sejak awal ujuk rasa. Selasa (8/6) kemarin, pihaknya ingin menjemput M Zen di kediamannya. Tetapi belum sampai di kediamanan M Zen, anggotanya dihadang oleh ratusan massa dengan membawa parang, kayu, serta bensin. ‘’Yang buat susah itu, mereka membawa ibu-ibu dan anak-anak,’’ tambahnya.
Karena jumlah masyarakat lebih banyak, pihaknya mundur. Tapi bentrokan tidak terhindarkan lagi. Mobil patroli dibalikkan dan dibakar. Namun Kapolres mengakui, atas kejadian bentrok tersebut sebanyak 11 orang pelaku unjuk rasa yang melakukan pelemparan dibawa ke Polres dan dimintai keterangan.
Camat Kuantan Mudik, Efrizon Marzuki AP MSi, menyayangkan peristiwa ini yang merenggut korban jiwa. Meski belum pasti penyebabnya, mayat Jusniar sempat divisum di Puskesmas Lubuk Jambi. Hasil visum tersebut bagian punggung hingga dada kanan tembus yang diperkirakan akibat benda tajam. Ia berharap, persoalan ini bisa segera dituntaskan.
Satu Dirawat di RSUD
Sementara itu, Disman (45) warga Desa Kasang Lubuk Jambi Kecamatan Kuantan Mudik yang hadir dalam kejadian tersebut, diisukan meninggal, ternyata masih hidup. Pasalnya, menurut warga, Disman terkena peluru pihak kepolisian. Disman yang ditemui Riau Pos di ruang sal II Bedah RSUD Teluk Kuantan, Selasa (8/6) malam mengatakan, dirinya tidak tahu apa yang menembus bagian perut bawahnya.
Saat kejadian, dirinya datang untuk ikut meminta haknya pada KUD. Pasalnya, ia memiliki lahan kebun sawit di titik 43 desa Cengar Kecamatan Kuantan Mudik. Dari sekian panjang rombongan warga yang melakukan unjuk rasa, dia berada di bagian belakang. Saat sampai di lokasi kejadian, bentrokan sedang terjadi. ‘’Ketika itu saya ingin meletakkan sepeda motor saya di tempat yang sedikit aman. Tapi pas membalikkan badan, mendadak perut saya seperti diserempet sesuatu, yang langsung mengeluarkan darah. Dan saya tidak tahu apa,’’ ujarnya. Dari hasil pemindaian, tidak ditemukan ada peluru.
Masih Berkumpul
Hingga pukul 13.00 WIB kemarin siang, di ruas jalan Simpang Empat Desa Cengar Kecamatan Kuantan Mudik, masih terus berlanjut hingga malam. Warga datang ke Mapolsek Kuantan Mudik sekitar pukul 17.00 WIB. Bahkan hingga pukul 21.30 WIB, warga masih berada di ruas jalan lintas di depan Mapolsek Kuantan Mudik.
Sementara aparat kepolisian terus berjaga-jaga dengan senjata api. Di Mapolsek terlihat Kapolsek Kuantan Mudik AKP Sapri Joni, Kapolsek Kuantan Tengah AKP Supriono, Kapolsek Hulu Kuantan AKP Ben Hardi, Kapolsek Benai IPTU Masjang serta sejumlah perwira lainnya di Mapolres Kuansing. Atas aksi pendudukan ruas jalan tersebut, truk, bus dan mobil lainnya tak bisa lewat. Mereka terpaksa berhenti dan tidak bisa jalan.
Lebih dari satu kilometer antrean panjang truk, bus dan mobil lainnya menuju arah Sumatera Barat. Aksi yang dilakukan warga ini menuntut 11 orang rekannya dilepaskan Polres Kuansing. Baru pukul 22.10 WIB, 11 orang rekannya yang dibawa Polres setelah kejadian bentrokan dengan aparat dilepaskan. Namun, mereka masih tetap bertahan hingga berita ini diturunkan.
Berharap Damai
Sementara itu, Pimpinan KUD Prima Sehati, Ilyas Yakup, yang dikonfirmasi terpisah terkait bentrok meminta masyarakat untuk tetap menyelesaikan permasalahan secara damai. Pihaknya sendiri sampai saat ini terus berupaya memberikan penjelasan terkait permasalahan yang terjadi. Hanya saja, diakui dia, memang ada beberapa hal yang masyarakat terus mempertanyakan, di antaranya adalah terkait hasil kebun yang terlalu kecil.
‘’Kami sudah menjelaskan, bahwa hasil panen memang sedikit. Karena, memang belum secara keseluruhan kebun bisa berbuah merata. Di samping itu, juga ada kerja sama antara koperasi dengan PT Tri Bakti Sarimas sebagai mitra kelola dan tidak mungkin membuat keputusan sendiri,’’ ungkap Ilyas.
Begitupun, terkait dengan kondisi terakhir di lapangan, Ilyas juga menjelaskan pihaknya berencana Rabu (9/6) besok akan melakukan pertemuan dengan pihak PT TBS untuk mendudukkan permasalahan yang menjadi pemicu terjadinya aksi di lapangan. ‘’Ya, kami sudah berencana melaksanakan pertemuan dengan pihak TBS, selanjutnya hasil pertemuan itu yang akan kita sampaikan kepada Dinas Perkebunan, supaya permasalahan ini tidak sampai salah dimengerti,’’ jelas Ilyas Yakup yang mengaku sepanjang hari kemarin terus menerima telepon terkait bentrok yang terjadi di lapangan.
Disesalkan
Insiden penembakan ini menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi pemuka adat Kuantan Singingi, Datuk Bisai XII Edyanus Herman Halim. ‘’Aparat keamanan hendaknya jangan menggunakan senjata kepada rakyat karena senjata itu dibayar dengan pajak rakyat. Harus tetap menggunakan cara-cara persuasif dan diplomatis,’’ ujarnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Kuantan Singingi, Drs H Mursini saat dikonfirmasi malam tadi mengimbau kedua belah pihak untuk dapat saling menahan diri untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimana pun, disebutkan dia, tidak ada permasalahan yang tidak terselesaikan bila semua pihak bisa saling menahan diri.(dac/bud/muh)

Laporan Tim Riau Pos, Lubuk Jambi
redaksi@riaupos.com
»»  READMORE...

Banyak Kebun Tak Tersentuh Pajak

Bupati Kuansing H Sukarmis menyebutkan, Kabupaten Kuansing, merupakan kabupaten yang memerlukan dukungan pendanaan untuk kegiatan pembangunan yang dilaksanakan.

Salah satu penerimaan yang diharapkan Pemkab Kuansing, adalah dari sektor pajak. Baik pajak bangunan maupun perkebunan.
Di sektor pajak perkebunan, Bupati H Sukarmis mengatakan, masih banyak kebun milik pengusaha di Kuansing yang lolos dari pajak. Bahkan jumlahnya mencapai ratusan hektare. Hal ini diungkapkannya, saat membuka sosialisasi tugas dan tanggungjawab kolektor dalam pelaksanaan PBB perkotaan dan pedesaan, Senin (7/6) di Balai Pertemuan Adat Teluk Kuantan.
Ironisnya, kata Sukarmis, para pengusaha perkebunan tersebut masih lolos dari pajak. Ini dikarenakan kecerdikan mereka, ‘’menitipkan’’ areal perkebunannya pada masyarakat desa setempat.
Sosialisasi ini dihadiri kepala dinas, badan, camat serta para kolektor di lingkungan Pemkab Kuansing. H Sukarmis mengatakan, langkah ini sebagai upaya untuk mencari kekurangan dana pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan. Pembangunan yang dilakukan tidak hanya infrastruktur tetapi juga kegiatan pembangunan lainnya.
Selain itu, Sukarmis mengingatkan kalau masyarakat harus membayarkan kewajibannya, seperti pajak. Disadari Sukarmis, kalau Kabupaten Kuansing bukan kabupaten penghasil tetapi kabupaten penerima hasil. ‘’Tidak ada kita baru mendatangkan hasil, kecuali pajak,’’ ujarnya.
Pajak yang dihasilkan ini, disetorkan ke Pemerintah Pusat. Hasil itu, baru diserahkan Pemerintah Pusat pada daerah yang besarannya sudah diatur. Karena itu, untuk pelaksanaan pembangunan harus ada kejujuran membayar pajak.
Karena itu, kolektor-koletor pajak PBB ini harus tahu juga dengan pembangunan di desanya. Perkembangan bangunan itu, wajib di pungut PBB bangunannya, maupun sektor perkebunan. Pasalnya, banyak bangunan yang ada dan perkebunan yang belum terdata dan belum membayar pajak.
Tapi ada yang ratusan hektare kebunnya, tetapi tidak terdata dan belum bayar pajak. ‘’Ini ada apa,’’ kata Sukarmis. Karena itu, para kolektor-kolektor ini harus berupaya mencarinya. Kalau ingin membangun Kuansing, yang paling penting adalah orang-orang yang belum bayar pajak tersebut harus bayar pajaknya.
Kepala Dinas Pendapatan harus sering berkoordinasi dengan camat, camat dengan kepala desa dan kolektor-kolektor PBB ini. Sebab, orang yang tahu adalah para kolektor-kolektor pajak PBB di desa.
Sementara Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kuansing Drs H Sumarli MM, kegiatan ini dilatar belakangannya yakni penggantian kolektor setiap tahunnya sehingga yang baru kurang memahaminya tugas dan kewajibannya, masih banyaknya tunggakan PBB sektor perkotaan dan pedesaan.
Kegiatan ini bertujuan meningkatnya penerimaan dari sektor PBB sektor perkotaan dan pedesaan. Kegiatan ini diikuti kolektor dan koordinator kolektor PBB sebanyak 222 orang. Kegiatan ini menghadirkan instruktur dari Kantor Pajak Pritama Rengat.(nto) .Source: www.riaupos.com

»»  READMORE...

Bangunan SMAN 1 Teluk Kuantan Terbengkalai

TELUK KUANTAN (RP) - Pembangunan ruang belajar berlantai II SMAN 1 Teluk Kuantan, hingga kini masih terbengkalai. Padahal, pembangunan ruang belajar yang dianggarkan dari APBD Provinsi Riau ini sudah dimulai sejak 2008 lalu.

Akibatnya, bangunan tersebut sudah dipenuhi semak belukar dan ditumbuhi pohon di dalam ruangan belajar empat lokal lantai I. Kepala SMAN 1 Teluk Kuantan Harnita SPd yang dikonfirmasi Riau Pos, Senin (31/5) menyayangkan kondisi bangunan yang dibiarkan terbengkalai begitu saja.
Namun pihak sekolah tidak tahu secara pasti apakah tahun ini akan dilanjutkan atau tidak. Harnita menyarankan agar persoalan ini dikonfirmasikan pada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kuansing.
Terkait dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kuansing Drs H Alwis MSi yang dikonfirmasi melalui Kabid Sarana dan Prasarana H Akmal Yahfis ST menyebutkan kalau pihaknya belum mendapatkan informasi yang pasti soal bangunan ruang belajar dua lantai untuk SMAN 1 Teluk Kuantan. ‘’Belum ada kepastian dari Disdik Riau, apakah akan dibangun 2010 ini atau tidak. Belum ada informasi yang disampaikan pada kita,’’ ujarnya.
Akmal Yahfis menyebutkan, bangunan ruang belajar tersebut dibangun 2008 lalu. Namun pada 2009 dan 2009 tidak ada mendapatkan bantuan anggaran dari Pemerintah Provinsi Riau. Sementara kondisi di lapangan, baru sampai pada tahap pembangunan pondasi ruang belajar lantai I dan II.
Tapi, justru di 2009 tidak ada tindak lanjutnya. Proyek pembangunan ruang belajarnya terbengkalai sampai sekarang hingga ditumbuhi semak belukar. Selain itu, Akmal menyebutkan, koordinasi dengan Disdik Kuansing pun terbilang sangat lemah.
Padahal, kegiatannya dilaksanakan di Kabupaten Kuansing. Disdik Kuansing berharap, 2010 ini proyek tersebut dilanjutkan. ‘’Informasi kita, 2010 ini akan dilanjutkan. Mudah-mudahan begitulah,’’ tambahnya.(dac). Source: Riaupos.com

»»  READMORE...

Jembatan Tolang Mulai Ditangani Provinsi

TELUK KUANTAN (RP) - Jembatan Tolang Desa Pangkalan Indarung Kecamatan Singingi, saat ini mulai di tangani pihak Provinsi Riau pengerjaannya. Pasalnya, status jembatan Tolang yang berada sekitar 12 kilometer dari ruas jalan Muara Lembu, merupakan jalan provinsi.

Di awal bulan Mei ini, jembatan tersebut putus. Sehingga tidak bisa dilalui masyarakat setempat, begitu juga akses mengangkut hasil produksi tanaman karet dan sawit keluar.
Namun dalam waktu satu atau dua pekan ke depan, jembatan ini sudah mulai kembali bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat serta kegiatan masyarakat setempat. Ini diungkapkan Kepala Dinas Bina Marga dan Sumberdaya Air Kabupaten Kuansing Sabri SSos melalui Kabid Bina Marga H Nuzirwan yang dikonfirmasi Riau Pos, Ahad (30/5) di Teluk Kuantan.
‘’Sudah. Pihak provinsi sudah mulai mengerjakannya saat ini,’’ ujarnya. Saat ini, dari hasil pengecekan lapangan, pihak Provinsi Riau sudah mulai mendroping kayu-kayu jembatan, untuk mengganti yang sudah rusak dan hancur. Jembatan Sungai Tolang tersebut berukuran panjang 11 meter.
Untuk saat ini, pihak Provinsi Riau baru bisa mengganti jembatan Sungai Tolang yang juga terbuat dari kayu tersebut dengan jembatan kayu yang baru. Ini mengingat tidak memungkinkan lagi untuk pembangunan jembatan permanent atau box culvert yang diminta masyarakat. Pasalnya, semua kegiatan APBD Riau 2010 sudah teranggarkan semuanya untuk berbagai kegiatan.
Meski begitu, Pemkab Kuansing tetap berharap pada tahun anggaran murni APBD 2011 mendatang, jembatan Sungai Tolang Desa Pangkalan Indarung Kecamatan Singingi bisa diganti dengan jembatan permanen. Karena, meski diganti dengan jembatan kayu namun ketahanan tidak akan terlalu lama.
‘’Posisi sekarang tidak memungkinkan masuk perbaikan jembatan permanen 2010 ini, karena anggarannya sudah terklop seluruhnya. Tapi kita minta pada pihak provinsi ini dimasukan penganggarannya untuk 2011 mendatang,’’ ujarnya.
Pembangunan dan perbaikan jembatan Sungai Tolang sekarang, sebagai langkah sementara agar akses jalan dan ekonomi masyarakat tidak lumpuh, akibat putusnya jembatan Sungai Tolang ini. Selain mmperbaiki jembatan Sungai Tolang yang sudah putus ini, pihak Provinsi Riau juga melakukan perbaikan satu unit jembatan kayu yang juga sudah rusak, yang berada di ruas jalan menuju Desa Pangkalan Indarung sebelum jembatan Sungai Tolang.(dac). Source:Riaupos.com

»»  READMORE...

DPKP Tenderkan Pintu Kios Pasar Rakyat

TELUK KUANTAN (RP) - Dinas Pasar Kebersihan dan Pertamanan (DPKP) Kuansing, mulai menenderkan pemasangan pintu kios (polding gate) untuk Blok B dan C Pasar Rakyat Teluk Kuantan. Pasalnya, meski secara fisik bangunan sudah rampung, namun kios-kios yang ada di dua bangunan tersebut belum dipasang.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas DPKP Kabupaten Kuansing H Muharlius SE MM menjawab Riau Pos, Jumat (28/5) di Teluk Kuantan. Dikatakan Muharlius, pada anggaran 2009 lalu, anggaran untuk pembangunan Blok B dan C bangunan Pasar Rakyat ini tidak mencukupi. Sehingga untuk pemasangan pintu kios terpaksa dianggarkan dalam APBD Murni 2010.
Saat ini, pelaksanaan tender sudah dalam tahap evaluasi. Bila tidak ada aral melintang, minggu depan pemenang tender pemasangan pintu kios Pasar Rakyat Teluk Kuantan ini bisa diumumkan. Disamping itu, Muharlius mengatakan, pemasangan polding gate ini juga untuk memberikan kenyamanan dan keamanan pada pedagang yang bakal menempati kios-kios tersebut.
Dinas DPKP, juga sudah mendata calon pedagang yang akan menempati kios-kios di bangunan Pasar Rakyat tersebut. Pemasangan pintu kios Pasar Rakyat ini, tidak secara keseluruhan. Baru untuk lantai II Pasar Rakyat. Sementara untuk lantai tiga, Dinas DPKP Kuansing akan mengusulkannya kembali di APBD Murni 2011. Ini mengingat keterbatasan dana APBD Kuansing saat ini.
‘’Kita sudah data dan tetapkan calon pedagang yang akan menempati kios-kios tersebut,’’ ujarnya. Lebih jauh dijelaskan mantan Kabag Keuangan Setda dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kuansing ini, para pedagang yang akan menempati kios-kios tersebut adalah pedagang harian. Sebagian di antaranya mereka yang saat ini berjualan di kawasan Pasar Terminal Teluk Kuantan (Pasar Lumpur-red).
Bila pintu-pintu kios ini sudah terpasang, Dinas DPKP Kuansing meminta kepada para pedagang yang akan menempati kios tersebut, untuk segera memfungsikannya. Sehingga seluruh bangunan sudah terfungsi keseluruhannya. ‘’Ini sudah kita sampaikan pada pedagang,’’ ujarnya.(dac) . Source:Riaupso.com

»»  READMORE...